Minggu, 07 Februari 2021

SEJARAH KOTA JAKARTA

 SEJARAH KOTA JAKARTA

Sunda Kelapa (397–1527)

Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kalapa (Aksara Sunda: ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮊᮜᮕ), berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibu kota Kerajaan Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang berarti "ibu kota") dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan ibu kota Tarumanagara yang disebut Sundapura (bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Sunda").

Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.

Jayakarta (1527–1619)



Bangsa Portugis merupakan Bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan tersebut. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan pendudukan Pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta (aksara Dewanagari: जयकृत) yang berarti "kota kemenangan", Jayakarta berasal dari dua kata Sanskerta yaitu Jaya (जय) yang berarti "kemenangan" dan Karta (कृत) yang berarti "dicapai".  Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

Batavia (1619–1942)



Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. (Lihat Batavia). Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India. Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari etnis pendatang, pada zaman kolonialisme Belanda, membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.

Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan selesainya Koningsplein (Gambir) pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 di Ibukota Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente Batavia dan Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng, dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara. Pada tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) telah terintegrasi menjadi sebuah wilayah Jakarta Raya.

Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Jawa yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.

Djakarta (1942–1945)

Pendudukan oleh Jepang dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.

Jakarta (1945-sekarang)


Sejak kemerdekaan sampai sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Chusus Ibukota (DCI, sekarang dieja Daerah Khusus Ibukota/DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.

Semenjak dinyatakan sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu 5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan. Pusat-pusat permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat permukiman besar pertama yang dibuat oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.

Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk, seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan alat transportasi umum yang memadai.

Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan di Jakarta yang memakan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki oleh para mahasiswa yang menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan ini adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. (Lihat Kerusuhan Mei 1998).

Kebudayaan DKI Jakarta

 

Kebudayaan DKI Jakarta



Kebudayaan DKI jakarta adalah budaya mestizo atau suatu budaya campuran dari beberapa etnis. Sejak zaman penjajahan Belanda. Jakarta adalah Ibukota Indonesia yang membuat orang-orang berdatangan dari seluruh Nusantara.

Nah teman-teman kali ini kita akan membahas kebudayaan DKI Jakarta, kita akan membahas mengenai

1. Rumah Adat DKI Jakarta
2. Pakaian Adat DKI Jakarta
3. Kesenian DKI Jakarta
4. Senjata Tradisional DKI Jakarta
5. Lagu Daerah DKI Jakarta
6. Bahasa Daerah DKI Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta dihuni oleh beberapa suku bangsa atau etnis antara lain:

- Jawa
- Sunda
- Minang
- Batak
- Bugis.

Selain dari penduduk Nusantara, kebudayaan Jakarta juga banyak menyerap dari kebudayaan negara luar negeri, seperti:

- Budaya Arab
- Tiongkok
- India
- Portugal.

Suku asli kota Jakarta yaitu suku Betawi, makin kesini suku Betawi sedikit tergeser oleh suku suku pendatang, akhirnya sebagian suku Betawi ini menyebar keluar dari jakarta ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Khawatir akan menghilangnya budaya asli suku Betawi maka pemerintah setempat mendirikan cagar budaya di Situ Babakan.

Suku Betawi adalah merupakan Suku asli kota Jakarta 

Berikut ini beberapa kebudayaan DKI Jakarta yang harus kita ketahui

Rumah Adat DKI Jakarta


Rumah adat DKI jakarta yang notabene nya merupakan rumah adat suku Betawi yaitu Rumah adat Kebaya. Namun selain rumah adat kebaya yang sudah di resmikan menjadi rumah adat Betawi, ada juga beberapa rumah adat yang masih berasal dari meraka yaitu Rumah Joglo, Rumah Panggung dan Rumah Gadang. Mari kita bahas satu per satu

Rumah Adat Kebaya

Rumah adat Betawi ini mempunyai ciri khas atap seperti pelana yang dilipat. Jika dilihat dari samping, atap rumah maka akan terlihat seperti lipatan kebaya. Dari situlah kenapa rumah ini di kenal dengan rumah Kebaya.

Rumah Adat Joglo

Bangunan rumah adat ini hampir sama dengan rumah adat dari Jawa, terutama pada bagian atap. Rumah Joglo Betawi ini berbentuk bujur sangkar. Rumah Joglo terbagi menjadi tiga ruang, yakni ruang depan, ruang tengah serta ruang belakang.

Rumah Adat Panggung

Rumah khas Betawi yang satu ini khusus bagi masyarakat Betawi yang tinggal di daerah pesisir pantai. Semua bahan rumah panggung dan menggunakan kayu. Bentuk rumah panggung juga dirancang dengan tujuan agar terhindar dari genangan air ketika banjir melanda.
Rumah adar ini juga digunakan oleh masyarakat Betawi yang hidup di daerah pesisir dengan tujuan aman ketika air laut sedang pasang.

Rumah Adat Gadang

Rumah adat ini biasanya terletak di daerah terpencil, sehingga bangunannya masih asli, belum tercampur oleh budaya luar. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran yang bervariasi. Atap rumah berbentuk seperti pelana kuda dan disusun dengan kerangka kuda-kuda. Bagian depan diberi atap miring yang disebut markis atau topi. Markis ini untuk menahan paparan sinar matahari dan air hujan.

Pakaian Adat – Kebudayaan DKI Jakarta


Perlu kalian ketahui bahwa nama Betawi itu berasal dari kata Batavia (Jakarta pada masa lalu). Warga pada saat itu kurang fasih dalam menyebut nama Batavia. Dan lebih sering menyebutnya dengan batavi atau batawi (betawi). Nah, dari situlah kemudian orang-orang yang di kawasan itu disebut orang Betawi, sampai saat ini.

Baju Ujung Serong (Baju Bangsawan Betawi)

Bagi para bangsawan Betawi ada baju khusus yang bisa dipakai ketika upacara adat. Masyarakat Betawi biasa menyebutnya dengan baju ujung serong

Celana Batik

Celana batik ini termasuk atribut pakaian adat Betawi pria. Bentuk dari celana ini seperti celana kolor yang memiliki karet pada bagian pinggangnya

Baju Koko Saridah

Model dari saridah ini mirip dengan baju koko yang beredar di pasaran. Beda nya yaitu saridah tidak bermotif.

Selendang

Selendang pakaian Betawi pria ini sering disebut juga sarung atau sorban. Namun bukan sorban yang biasa dipakai di kepala. Melainkan kain yang dilipat dan diselendangkan di pundak dan dikalungkan di leher.

Pakaian Keseharian Pria

Pakaian ini terdiri atas baju sadariah (koko) dan celana komprang ukuran tanggung. Ditambah sarung yang digulung dan dikaitkan di pinggang. Dan memakai sabuk warna hijau serta peci berwarna merah.

Sabuk Betawi

Sabuk ini biasanya untuk pangsi betawi, terbuat dari sejenis kain bisban tebal. Warna hijau ukurannya yang lebar memang sudah menjadi khas betawi, di sekitar badan sabuk dipasang kantong yang menempel, semacam dompet yang bisa menyimpan barang-barang kecil.

Pakaian Pengantin Pria

Pakaian pengantin Betawi khusus pria ini sering dikenal dengan nama “dandanan care haji”.

Baju Kurung

Baju adat ini merupakan pakaian adat keseharian wanita Betawi asli.

Kain Kebat Sarung Batik

Pakaian adat ini termasuk atribut pakaian Betawi khusus wanita. Kain sarung ini digunakan untuk menutupi bagian bawah dan menutup bagian kepala.

Kerudung Betawi

Kerudung ini biasanya berbentuk kain selendang wanita dan sering dipakai oleh wanita usia muda.

Pakaian Pengantin Wanita

Pengantin wanita Betawi dalam pernikahannya selalu memakai pakaian adat Rias Besar yang disebut “Dandanan Care None Pengantin Cine”.

Itulah beberapa bagian pakaian adat DKI jakrata, bagi penduduk asli DKI Jakarta hal ini tentu adalah kebanggaan tersendiri.

Kesenian Tradisional DKI Jakarta


Menurut data yang diperoleh dari Kebudayaan Provinsi dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta, ada beberapa kesenian khas Betawi yang paling populer, kesenian itu yaitu:

Ondel Ondel

Ondel-ondel adalah sebuah boneka raksasa yang tak bisa dipisahkan dari kesenian DKI jakarta khususnya Betawi dan merupakan ikon dari kota Jakarta. Biasanya ondel-ondel ini ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Makna filosofis dari ondel-ondel ini yaitu seperti leluhur atau nenek moyang yang menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Tanjidor

Tanjidor (kadang hanya disebut tanji) merupakan sebuah kesenian Betawi yang berbentuk orkes. Kesenian ini sudah ada sejak abad ke-19 dan merupakan rintisan dari Augustijn Michiels atau lebih dikenal dengan nama Mayor Jantje di daerah Citrap atau Citeureup. Alat-alat musik yang dipakai biasanya sama seperti drum band.

Lenong

Lenong merupakan kesenian teater tradisional atau sandiwara rakyat Betawi yang dibawakan pada dialek Betawi yang berasal dari Jakarta, Indonesia. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong. Lakon atau skenario lenong pada umumnya mengandung pesan moral, yakni menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tidak terpuji.

Tari Belenggo

Blenggo atau Belenggo Rebana merupakan seni tari khas Betawi yang kental dengan nuansa Islam. Kata “blenggo” berasal dari kata “lenggak-lenggok”, yakni gerakan yang lazim dilakukan dalam sebuah tarian.

Tari Lenggong Nyai

Tari Lenggang Nyai merupakan salah satu tarian khas Jakarta yang diambil dari sebuah cerita rakyat. Tarian ini memiliki makna dan pesan yang ingin disampaikan, terutama pesan mengenai kebebasan wanita. Tari ini sering ditampilkan pada berbagai acara di Jakarta.

Senjata Tradisional Kebudayaan DKI Jakarta


Ada 8 senjata tradisional Betawi yang akan kita bahas, kedelapan senjata tersebut antara lain:

Golok Betawi

Golok merupakan senjata tradisional Betawi yang paling populer. Senjata ini jadi alat kelengkapan keseharian pakaian adat Betawi para kaum pria. Golok diselipkan di ikat pinggang hijau dan dipakai saat bekerja atau bepergian untuk perlindungan diri.

Keris

Betawi di masa silam juga mengenal keris sebagai salah satu senjata tradisional yang mereka punya. Bentuk dari keris Betawi ini juga tidak ubahnya seperti keris Jawa pada umumnya.

Belati

Belati berbentuk menyerupai golok, namun ukurannya lebih kecil. Selain itu, bilahnya cenderung lebih tebal dengan ujung yang lancip dan melengkung.

Badik Cangkingan

Di masa silam, para pemuda betawi yang pergi jauh dari rumah kerap membawa senjata untuk menjaga diri. Senjata ini kerap dibawa bepergian (dicangking), senjata ini kemudian dinamai badik cangkingan

Trisula

Pengaruh budaya Hindu di pulau Jawa pada masa silam memang meninggalkan banyak benda bersejarah. Salah satunya adalah budaya penggunaan trisula sebagai senjata pada kehidupan masyarakat Betawi.

Toya

Di masa silam, Betawi memang dikenal memiliki banyak jawara dan perguruan silat. Maka tidak heran jika kita menemukan adanya senjata tongkat bernama Toya ini. senjata toya dahulu digunakan sebagai alat latihan bagi murid-murid perguruan silat.

Pisau Raut

Jenis senjata tradisional Betawi selanjutnya adalah pisau raut. Senjata ini bukan digunakan untuk senjata dalam peperangan, melainkan lebih digunakan untuk sarana budaya.

Senjata Tradisional Cunrik

Senjata cunrik ini kerap dibawa ketika bepergian oleh kaum wanita Betawi di masa silam, Senjata ini tidak berbentuk senjata. Bentuknya menyerupai aksesoris tusuk konde tapi cukup mematikan karena ketajamannya.

Makanan Khas DKI Jakarta


Makanan Khas Betawi saat ini sudah banyak yang langka dan bahkan nyaris punah, oleh sebab itu, penting sekali untuk melestarikan warisan kuliner nenek moyang kita. berikut beberapa makanan khas betawi

- Kerak Telor
- Nasi Uduk
- Nasi Ulam
- Roti Buaya
- Ketupat Sayur atau Lontong Sayur
- Gado-gado
- Ketoprak
- Semur Jengkol
- Laksa Betawi
- Pindang Bandeng
- Soto Betawi
- Soto Tongkar

Lagu Daerah DKI Jakarta


Ternyata, di DKI Jakarta ada lagu dari jaman dulu yang akhirnya dikenal dan menjadi lagu daerah sampai sekarang. Lagu apa saja? Berikut diantaranya:

- Jali-Jali
- Keroncong Kemayoran
- Kicir Kicir
- Lenggang Kangkung
- Ondel-ondel
- Sirih Kuning
- CIk Abang
- Dayung Sampan
- Kelap-kelip
- Ronggeng Jakarta
- Surilang
- Surilang Jot-Njotan
- Wak-Wak Gung

Bahasa Daerah DKI Jakarta


Bahasa Betawi atau Melayu Dialek Jakarta atau Melayu Batavia (bew) merupakan sebuah bahasa yang bahasa itu sendiri adalah anak bahasa dari Melayu. Mereka yang memakai bahasa ini dinamakan orang Betawi. Bahasa ini hampir seusia dengan daerah tempat bahasa ini dikembangkan, yakni Jakarta.

Adapun bahasa lain yang ada di DKI Jakarta antara lain yaitu:

- Bahasa Indonesia (resmi)
- Bahasa Betawi (utama)
- Bahasa Melayu,
- Bahasa Jawa
- Bahasa Pecok
- Bahasa Sunda
- Bahasa Banjar
- Bahasa Minangkabau
- Bahasa Batak
- Bahasa Madura
- Bahasa Tionghoa
- Bahasa Mandarin
- Bahasa Arab
- Bahasa Tamil
- Bahasa Belanda
- Bahasa Portugis.

Penutup

Nah teman-teman itulah kebudayaan DKI Jakarta yang harus kalian ketahui. Semoga bermanfaat!

Terima kasih

Sabtu, 06 Februari 2021

24 MUSEUM - MUSEUM DI JAKARTA YANG WAJIB ANDA KUNJINGI

24 MUSEUM - MUSEUM DI JAKARTA YANG WAJIB ANDA KUNJINGI

1.Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta


Letak Museum Fatahillah yang juga dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta ada di kawasan Kota Tua. Gedung bekas kantor gubernur Batavia ini diresmikan sebagai museum di tahun 1974. Selain sejarah Jakarta banyak orang yang penasaran dengan penjara bawah tanah Museum Fatahilah yang terkenal angker.

Harga Tiket Museum Fatahillah

– Dewasa : Rp 5.000,-
– Anak-anak : Rp 2.000,-

Jam Operasional Museum Fatahillah

Selasa s/d Minggu : Pukul 9.00 – 15.00

Lokasi Museum Fatahillah

Jalan Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat

2. Museum Taman Prasasti


Museum cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda ini memamerkan berbagai prasasti peninggalan Belanda, seperti koleksi prasasti nisan kuno, koleksi kerata jenazah antik, prasasti peresmian pada masa pendudukan kolonial dulu dan ada juga miniatur makam khas dari 27 provinsi di Indonesia.

Harga Tiket Taman Prasasti

– Dewasa : Rp 5.000,-
– Mahasiswa : Rp 3.000,-
– Anak-anak : Rp 2.000,-

Jam Operasional Taman Prasasti

Selasa s/d Minggu 09.00 – 15.00

Lokasi Museum Taman Prasasti

Jl. Tanah Abang I No.1, RT.11/RW.8, Petojo Sel., Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160

3. Museum Wayang


Salah satu museum di kota Tua yang wajib dikunjungi adalah Museum Wayang Jakarta. Gedung yang tampak unik ini sudah mengalami perombakan, dulu sempat menjadi gereja dan dibangun kembali kembali menjadi museum. Di sini kamu bisa melihat koleksi wayang dari Sabang sampai Merauke.

Harga Tiket Museum Wayang

Rp.5.000,- / orang

Jam Operasional Museum Wayang

Selasa s/d Jum’at : Pukul 09.00 – 15.00
Sabtu s/d Minggu : Pukul 09.00 – 20.00

Lokasi Museum Wayang

Jalan Pintu Besar Utara No.27 Pinangsia, RT.3/RW.6, Kota Tua, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

4. Museum Nasional atau Museum Gajah


Museum yang berada di jalan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat ini dulunya disebut Museum Gajah lantaran keberadaan patung gajah ikonik yang berada di luar gedung. Di museum ini kamu bisa belajar sejarah Indonesia lewat prasasti dan arca peninggalan kerajaan di masa lampau.

Harga Tiket Museum Gajah

– Pengunjung Perorangan
– Dewasa : Rp 5.000,-
– Anak-anak : Rp 2.000,-

Pengunjung Rombongan (minimum 20 orang)

– Dewasa : Rp 3,000,-
– Anak-anak (TK s.d SMA) Rp 1.000,-
– Pengunjung Asing Rp 10.000,-

Jam Operasional Museum Gajah

Senin : Tutup
Selasa s/d Jumat : Pukul 08.00 – 16.00
Sabtu s/d Minggu : Pukul 08.00-17.00

Lokasi Museum Gajah

Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110

5. Museum Seni Rupa dan Keramik


Museum Seni Rupa dan Keramik juga jadi tempat wisata Kota Tua yang tidak boleh dilewatkan. Bersebrangan dengan Museum Fatahilah di sini kamu bisa melihat beragam koleksi keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air.

Harga Tiket Museum Keramik

Rp.5.000,- / orang

Jam Operasional Museum Keramik

Selasa, Rabu, Kamis, Minggu : pukul 09.00-15.00 WIB
Jumat : 09.00 – 14.30
Sabtu : 09.00 – 12.30

Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik

Jl. Pos Kota, RT.9/RW.7, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

6. Museum Tekstil


Museum di Jakarta Pusat yang letaknya tersembunyi ini juga bisa jadi salah satu tujuan wisatamu. Museum Tekstil yang berlokasi di kawasan Tanah Abang ini merupakan cagar budaya yang mempunyai tugas khusus. Mulai dari mengumpulkan, mengawetkan, serta memamerkan karya seni tekstil Indonesia. Di sini kamu juga bisa belajar membantik lho!

Harga Tiket Museum Tekstil

– Dewasa : Rp 5.000,-
– Mahasiswa : Rp 3.000,-
– Anak-anak : Rp 2.000,-

Jam Operasional Museum Tekstil

Selasa s/d Minggu 09.00 – 15.00

Lokasi Museum Tekstil

Jl. Ks. Tubun No.2-4, RT.4/RW.2, Kota Bambu Sel., Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11420

[promotion_banner id=”636807″ title=”Travel” image_url=”https://blog.shopback.co.id/wp-content/uploads/2019/01/847×100-–-Liburan1.jpg”]

7. Museum Basoeki Abdullah


Mungkin tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan museum ini, atau bahkan tidak mengenal who is Basoeki Abdullah? Basoeki Abdullah atau lebih lengkapnya Fransiskus Xaverius Basoeki Abdullah adalah seorang maestro pelukis aliran realis dan naturalis.

Museum Basoeki Abdullah ini menempati rumah asli maestro pelukis. Di sinilah kumpulan lukisan dan koleksi pribadi miliknya bisa kamu lihat. Bukan hanya lukisan saja lho karya seni lain seperti patung, topeng, wayang, dan lainnya bisa kamu lihat di sini.

Jam Operasional Museum Basoeki Abdullah

Selasa – Jumat : 08.00 – 16.00
Sabtu : 09.00 – 15.00
Minggu : 09.00 – 15.00
Senin dan Hari Libur Nasional Tutup.
Waktu istirahat : 12.00 – 13.00

Harga Tiket Masuk Museum Basoeki Abdullah

Dewasa :
Rp. 2.000 (Perorangan)
Rp 1.000 (Rombongan)
Anak-anak :
Rp. 1.000 (Perorangan)
Rp. 500 (Rombongan)
Pengunjung Asing / Turis : Rp 10.000

Lokasi Museum Basoeki Abdullah

Jl. Keuangan Raya No.19, RT.7/RW.5, Cilandak Bar., Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430

Baca juga: 10 Tempat Wisata Alam di Jakarta yang Worth It Buat Dikunjungi!

8. Museum Bank Indonesia


Sejarah pereknomian Indonesia bisa langsung kamu pelajari di Museum Bank Indonesia atau Museum BI. Berbeda dengan museum lainnya, di sini penjelasan mengenai hal ini lebih atraktif dengan diorama. Krisi moneter tahun 98 pun dijelaskan dengan seru di Museum BI.

Harga Tiket Museum Bank Indonesia

Rp.5.000,- / orang

Jam Operasional Museum Bank Indonesia

Selasa s/d Jum’at : Pukul 07.30 – 15.30
Sabtu s/d Minggu : Pukul 08.00 – 16.00

Lokasi Museum Bank Indonesia

Jalan Jembatan Batu No.3, Pinangsia, Tamansari, RT.3/RW.6, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat

9. Museum Bank Mandiri


Berbeda dengan Museum BI di Museum Bank Mandiri kamu bisa melihat sekaligus merasakan perbankan jaman dulu yang unik. Mulai dari melihat mesin hitung uang mekanik, mesin tik, sampai mesin cetak. Bangunannya yang megah juga sangat Instagramablle.

Harga Tiket Museum Mandiri

Rp.5.000,- / orang

Jam Operasional Museum Mandiri

Selasa s/d Minggu : Pukul 9.00 – 15.00

Lokasi Museum Mandiri

Jl. Lapangan Stasiun No. 1, RT. 3 / RW. 6, Pinangsia, Tamansari, RT.3/RW.6, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat

10. Museum Satria Mandala


Museum yang diresmikan di tahun 1972 ini menyimpan sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia. Di dalam museum ini terdapat peninggalan perang mulai dari ranjau, rudal, torpedo, tank, dan meriam. Di sini juga ada beberapa helikopter dan pesawat terbang militer yang bisa kamu lihat lho.

Harga Tiket Museum Satria Mandala

Dewasa/umum: Rp 2.500
Mahasiswa/pelajar/anak-anak: Rp 1.500

Jam Operasional Museum Satria Mandala

Selasa s/d Minggu: 09.00 – 14.30 WIB

Lokasi Museum Satria Mandala

Jalan Jenderal Gatot Subroto No.14, RT.6/RW.1,Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jakarta 12710

11. Museum Layang-Layang


Layang-layang saat ini mungkin sudah jarang ditemui di langit Jakarta. Tapi kamu masih bisa melihatnya di Museum Layang-Layang yang mengumpulkan lebih dari 600 macam layangan uni. Di sini kamu juga bisa lho belajar membuat layangan atau bisa juga melukis layang-layang.

Harga Tiket Museum Layang-Layang

Rp.15.000

Jam Operasional Museum Layang-Layang

Setiap hari 09.00 – 16.00 (kecuali libur nasional)

Lokasi Museum Layang-Layang

Jalan Haji Kamang No.19, RT.2/RW.1, Pondok Labu, Cilandak, RT.2/RW.10, Pd. Labu, Cilandak, Kota Jakarta Selatan

12. Museum Kebangkitan Nasional


Museum Kebangkitan Nasional yang berada di Jalan Abdurrahman Saleh No.26 berdekatan dengan RSPAD menyimpan banyak sejarah. Sempat menjadi sekolah kedokteran STOVIA kini museum ini juga menyimpan beberapa koleksi perlengkapan kesehatan dan kedokteran.

Harga Tiket Museum Kebangkitan Nasional

– Dewasa : Rp 2.000,-
– Anak-anak : Rp 1.000,-

Jam Operasional Museum Kebangkitan Nasional

Selasa s/d Kamis 08.30 – 15.00
Jumat 08.30 – 11.30
Sabtu s/d Minggu 08.30 – 14.00

Lokasi Museum Kebangkitan Nasional

Jl. Abdul Rachman Saleh No.26, RT.4/RW.5, Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10410

13. Museum Perumusan Naskah Proklamasi


Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang berada di kawasan Menteng yang terkenal dengan rumah dengan arsitektur Belanda ini bisa jadi spot foto terbarumu. Gedung museum yang masih terjaga keaslian ini menyimpan sejarah perumusan naskah proklamasi. Selain diorama kamu juga bisa melihat tempat perumusan naskah asli.

Jam Operasional Museum Perumusan Nasikah Proklamasi

– Selasa s.d Kamis Pukul 08.00-12.00 WIB dan Pukul 13.00-16.00 WIB
– Jumat Pukul 08.00-11.30 dan Pukul 13.00-16.30 WIB
– Sabtu/Minggu Pukul 08.00-16.00 WIB

Harga Tiket Museum Perumusan Naskah Proklamasi

– Dewasa Perorangan Rp. 2.000,-
– Rombongan Dewasa (min. 20 orang) Rp. 1.000,-/orang
– Perorangan Anak – anak Rp. 1.000,-
– Rombongan Anak – anak (min. 20 orang) Rp. 500,-/orang
– Pengunjung Asing Rp. 10.000,-

Alamat Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Jl. Imam Bonjol No.1 Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta

14. Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara)


Museum MACAN adalah museum pertama di Indonesia yang menampilkan karya modern dan kontemporer tanah air serta internasional, lho. Sebagian dari karya-karya tersebut merupakan koleksi yang dikumpulkan oleh penggagas museumnya sendiri, yaitu pengusaha Haryanto Adikoesoemo.

Harga Tiket Museum MACAN

– Dewasa: Rp. 100.000
– Pelajar: Rp. 90.000
– Anak – anak Rp. 80.000

Jam Operasional Museum MACAN

Selasa – Minggu pukul 10.00 – 19.00 WIB

Alamat Museum MACAN

AKR Tower, Level M, Jl. Panjang No. 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530

15. ART:1 New Museum


Sesuai namanya museum yang juga dikenal dengan nama Gallery Modecor ini terbilang baru. Museum yang satu ini menyimpan karya-karya seni modern kotemporer. ART:1 New Museum in juga jadi rumah bagi seniman Indonesia karena setiap bulannya secara rutin digelar pameran.

Harga Tiket ART:1 Ne Museum

-Asing: Rp150.000
-Umum: Rp 100.000
-Pelajar/Mahasiswa: Rp 75.000
-Anak di bawah 12 tahun: GRATIS

Jam Operasional ART:1 Museum

Selasa s/d Sabtu: Pukul 10.00-18.00
Minggu: Pukul 10.00-16.00

Alamat ART:1 New Museum

Jl. Rajawali Selatan Raya No.3, RT.4/RW.6, Gn. Sahari Utara, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10720

[promotion_banner id=”595416″ title=”Promo Belanja Online, Kode Voucher Toko Online, Diskon, dan Kupon” image_url=”https://blog.shopback.co.id/wp-content/uploads/2017/12/847×100.png”]

16. Museum Hary Darsono


Pecinta fashion wajib mengunjungi museum yang satu ini. Hary Darsono salah satu perancang terkenal di tanah air ini memamerkan hasil karyanya di museum ini. Di Museum Hary Darsono ini kamu bisa melihat karya terkenalnya mulai dari gaun sampai tiara. Karya Hary Darsono ini juga terkenal di dunia lho!

Harga Tiket Museum Hary Darsono

Gratis (Sebaiknya sudah melakukan reservasi)

Alamat Museum Taman Prasasti

Jl. Cilandak Tengah No.71, RT.2/RW.13, Cilandak Bar., Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430

17. Museum Sumpah Pemuda


Hampir mirip dengan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Sumpah Pemuda juga menyimpan diorama sejarah Indonesia. Di sini kamu bisa merasakan bagaimana semangat Sumpah Pemuda di masa lalu.

Harga Tiket Museum Sumpah Pemuda

– Dewasa perorangan: Rp 2.000
– Anak-anak perorangan: Rp 1.000
– Asing: Rp 10.000

Jam Operasional Museum Sumpah Pemuda

Selasa s/d Kamis: Pukul 08.00-15.30
Jumat: Pukul 08.00-16.00

Alamat Museum Sumpah Pemuda

Jalan Kramat Raya No. 106, RT.2/RW.9, Kwitang, Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10420

18. Museum di Tengah Kebun


Namanya unik begitu juga dengan koleksi museum yang berada di Kemang, Jakarta Selatan. Museum di Tengah Kebun ini bagaikan oase di tengah hiruk pikuk Jakarta. Sesuai dengan namanya museum ini memang dikelilingi oleh kebun hijau yang akan membuatmu betah berlama-lama. Sedangkan untuk koleksinya museum ini menyimpan patung, topek, kayu dan fosil hasil koleksi pribadi lho. Jika ingin ke sini jangan lupa untuk reservasi terlebih dahulu ya.

Harga Tiket Museum di Tengah Kebun

Gratis

Jam Operasional Museum di Tengah Kebun

Sabtu s/d Minggu: Pukul 09.30-15.00

Alamat Museum di Tengah Kebun

Jl. Kemang Timur Raya Nomor No.66, RT.7/RW.3, Bangka, Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730

19. Museum Katedral


Museum Katedral berada di lantai dua Gereja Katedral dari sini kamu juga bisa melihat altar yang megah. Kebanyakan koleksi di sini menyimpan sejarah umat Katolik misalnya saja jubah yang pernah digunakan Paus saat ke Indonesia.

Harga Tiket Museum Katedral

Gratis

Jam Operasional Museum Katedral

Senin s/d Kamis: Pukul 10.00-16.00
Jumat: Tutup
Sabtu: Pukul 10.00-16.00
Minggu: Pukul 12.00-16.00

Alamat Museum Katedral

Jl. Katedral, Ps. Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710

20. Museum POLRI


Kalau Museum Satria Mandala menyimpan sejarah Tentara Nasional Indonesia, nah Museum POLRI menyimpan sejarah kepolisian Indonesia. Di sini kamu bisa melihat mulai dari pembentukan hingga misi-misi khusus yang berhasil diselesaikan dengan sukses oleh polisi.

Harga Tiket Museum POLRI

Gratis

Jam Operasional Museum POLRI

Senin s/d Minggu: Pukul 08.00-12.00 dan Pukul 13.00-14.30

Alamat Museum POLRI

Jl. Trunojoyo No.3, RT.5/RW.2, Selong, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110

21. Museum Hakka Indonesia


Baru pertama kali mendengar nama museum ini? Museum Hakka Indonesia ini berada di Taman Mini Indonesia Indah. Museum ini berisi informasi lengkap mengenai etnis Tionghoa di Indonesia.

Harga Tiket Museum Hakka Indonesia

Gratis (Harus membeli tiket masuk TMII)

Jam Operasional Museum Hakka Indonesia

Senin s/d Sabtu: Pukul 09.00-16.00

Alamat Museum Hakka Indonesia

TMII, RT.4/RW.2, Bambu Apus, Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13890

22. Museum Pulau Onrust


Museum yang berada di Kepulauan Seribu ini jadi saksi bisu sejarah panjang Jakarta. Pulau yang dinamain Onrust ini punya arti tidak berisitirahat. Sesuai sama namanya dulu pulau ini memang tidak istirahat pernah menjadi pusat sandaran kapal, pusat penangan penyakit tubercolosis, sampai pusat pemeriksaan jamaah haji. Kini kamu bisa melihat sisa-sisa bangunan masa kejayaan Pulau Onrust di sini.

Harga Tiket Masuk Museum Pulau Onrust

Gratis

Jam Operasional Museum Pulau Onrust

24 Jam

Alamat Museum Pulau Onrust

Onrust/Kapal), Pulau Kepulauan Seribu Sel., Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Sel., Kabupaten Kepulauan Seribu, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

23. MOJA Museum


Museum yang baru dibuka tahun 2018 ini jadi museum paling instagramablle di Jakarta. MOJA Museum memungkinkan kamu berinterasksi dengan karyanya di setiap ruangan. Selain bisa berfoto kamu juga bisa merasakan langsung bentuk karya di MOJA Museum. Siap-siap eksplorasi 14 ruangan yang memiliki tema tv dan sinema.

Harga Tiket Masuk MOJA Museum

Hari Kerja

-Dewasa: Rp 100.000

– Orang Tua: Rp 90.000

-Anak-anak: Rp 90.000

Hari Libur

-Dewasa: Rp 125.000

-Orang Tua: Rp 115.000

-Anak-anak: Rp 115.000

Jam Operasional MOJA Museum

Senin s/d Minggu: Pukul 11.00-19.00

Alamat MOJA Museum

Jl. Metro Pondok Indah Blok Tb No.27, RT.9/RW.16, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, South Jakarta City, Jakarta 12310

24. Museum Minyak dan Gas Bumi


Museum yang berada di TMII ini punya desain yang mirip dengan offshore platform. Di sini kamu bisa mempelajari sejarah minyak dan gas bumi selain itu kamu juga bisa mengetahui bagaimana kerja offshore di lapangan. Gedung ini terbilang canggih dengan fasilitas yang ada. Beberapa spot juga asik untuk diabadikan lho.

Harga Tiket Masuk Museum Minyak dan Gas Bumi

Gratis (Sudah termasuk tiket masuk TMII)

Alamat Museum Minyak dan Gas Bumi

Jl. Taman Mini Indonesia Indah, Bambu Apus, Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13810

SEJARAH KOTA JAKARTA

 SEJARAH KOTA JAKARTA Sunda Kelapa (397–1527) Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Ka...